Saya Tidak Mau Memikirkannya, Saya Ingin Menuliskannya

Bismillah. Semoga ini media move on yang tepat. Stepping stone for moving forward.

Saya ini Sanguin. Saya baru ingin memahami diri saya sendiri. Jadi Saya akan banyak cerita tentang diri Saya. Saya suka mengekspresikan apa yang saya pikirkan dan rasakan, di Myers-Briggs Theory seputar personality, saya punya nature atau kecenderungan dalam emosi yang Saya punya adalah dengan menyampaikannya. Bukan menyembunyikannya sebagaimana para Thinker do. I am a feeler. Something like that.

Oleh karenanya Saya tulis ini.

***
Ini adalah soal pernikahan. Sesuatu yang tabu kubicarakan secara gamblang di depan orang-orang. Lebih karena malu dianggap memikirkannya terus. (Tipically pasive behaviour or turbulence behaviour).

Saya bingung menyikapi sebuah hubungan dengan lawan jenis. Karena bagi saya sejak lahir bisa jadi, itu adalah hubungan yang sangat terbatas. Hanya seputar ayah dg anak perempuan, anak laki-laki dg ibu, paman dengan keponakan perempuannya, intinya ya dengan mahromnya.

Lalu hubungan dengan laki-laki asing bukan mahrom? Itu masih misteri. Saya tidak ingin dianggap eksklusif, dijauhi dan dianggap alien, tapi saya juga tidak ingin tidak dihormati sebagai perempuan. Pada dasarnya saya percaya semua perempuan sama seperti saya dalam hal ingin dihargai dan dimengerti.

Karena saya hidup di bawah keyakinan patri linea. Suku Jawa dan Agama yang sempurna ini juga bilang begitu. Hanya saja.. saya percaya ini bukan menyoal kebebasan dan keterinjakkan hak dan anti emansipasi.

Saya memaknai kebebasan dengan hal yang lain. Yang lebih indah menurut Saya dan yang memahaminya.

***
Sudah soal wanitanya..

***

Ya memang saya ini perfeksionis di suatu sisi. Dan sifat turbulence menjadi sifat yang mengindikasikannya. Yang saya targetkan sebagai respon dari laki-laki ideal adalah sifat mereka yang menghargai wanita, melindungi mereka dan tidak merendahkan mereka, meski Saya memang mengakui Kaum Hawa punya beberapa keterbatasan dibanding Kaum Adam. Sifat merendahkan itu bukan berarti dibolehkan karena Kami lebih lemah atau tidak kuat logika dan fisiknya.

***
Sifat yang saya ambil sebagai contoh di dunia nyata ini, ideal type dan actually reality goalnya. Adalah beberapa Ustadz yang saya kagumi akhlak dan santunnya terhadap wanita. Ustadz Aris Munandar, Ustadz Afifi Abdul Wadud, Ustadz Syafiq Reza, Ustadz Abu Salman sebut saja.

Ketika saya tanya “Bagaimana menyikapi perubahan mood yang memburuk saat PMS?” Saya tanya dengan perspektif perempuan, tapi Ustadz Aris jawab dengan perspektif Suaminya. Yaitu dengan banyak bersabar dan memaklumi. Beliau mengesankan sebuah pemakluman dan kemudahan bagi kami dalam usaha kami memperbaiki diri dengan keras saat sedang PMS, sebagai sebuah fitrah yang gak melulu harus dari sisi kaum hawa yang berbenah dalam menyikapinya.

Ketika saya lihat akhlak yang tegas dari Ustadz Afifi, saya masih bisa melihat kesetiaan dan kesederhanaan dalam mencintai serta kasih sayang yang mengalir lembut dari sikap beliau terhadap satu-satunya pendamping hidup beliau.

Ketika saya lihat kajian favorit ibu-ibu dari Ustadz Syafiq, tentang bagaimana bengkoknya wanita tidak bisa serta merta diluruskan dengan paksa.. kesabaran menjadi salah satu bahan utama dalam resep meluruskannya. Rasanya saya bisa memaknai apa itu artinya penghargaan dan pemuliaan kaum Adam pada kaum Hawa di dunia nyata.

Meski FYI saya bukan termasuk jajaran orang yang memfavoritkan beliau. Saya lebih suka gaya dan nuansa pembawaan kajian dari Ustadz Aris atau Ustadz Ammi Nur Baits. Saya lebih suka Ustadz yang not only virtually exist. Berhubungan erat dengan domisili, emang.

***
Oleh karenanya saya tidak setuju. Meski bekal saya tidak menyetujuinya adalah asumsi-asumsi yang berangkat dari informasi yang minim dan tidak bisa dipastikan dengan derajat Yaqin.

Dengan sikap tidak sopan yang kurang menghargai wanita. Sebagai mahluk perasa. Bagaimanapun karakternya.

(Udah ah, gausah dirinci bentuknya kek mana)

***
Yaah.. kengkawan saya adalah mahluk perasa yang dominan. Penuh ekspresi dan kadang lupa mempertimbangkan udzur dan kondisi kaum adam. Ya mau gimana lagi? kita dibangun di atas hubungan yang ketat jika belum halal atau tidak ada hubungan darah. Benar-benar lahan subur untuk saling berprasangka. Dengan segala keterbatasan data.

***
Sudah.. jangan dibahas orang lain deh.
Saya mau membahas masalah saya.

***
Polemik di usia 20an awal. Udah usia yang bisa nikah, tapi urf nya belum mendukung. Indonesia. Negara mayoritas islam. Tapi akidahnya warna-warni.  Kadang saya kzl sama Ustadz-ustadz yang pro nikah muda, dan manas-manasin ikhwah untuk segera menikah. Tapi ga didukung kajian-kajian yang mengarahkan para orang tua agar memudahkannya. Karena bagi wanita terutama, semata-mata ngebet nikah tapi tanpa ijin orang tua. Bisa jadi sulit juga termasuknya.

***
Harus didukung mental yang asertif dan berani susah ambil resiko. Tipically kayaknya emang aku kena syubhat pemikiran orangtua.
Bukan berarti aku anti nikah muda. Aku juga capek kali, berkutat dengan fitnah itu-itu aja.. masa mudaku terlalu sia-sia jika harus lama-lama berlarut-larut memikirkan fitnah lawan jenis saja. Padahal kewajiban itu menggunung. Semacam menuntut ilmu syar’i dan belajar bahasa arab atau menghapal al-Qur’an.

Dan kalau dipikir2, solusi move on dari fitnah itu ya seperti yang diajarkan Rasulullah untuk segera menikah jika sudah siap bathin dan lahirnya.

Artinya jika di masa muda sudah siap, ya maju. Sayangnya siap lahir itu lho yang jadi masalah. Emang sih, nikah kalau udah mapan itu mainstream banget. Tapi mau gimana? Rasul juga pernah mengajarkan bahwa mapan adalah suatu hal yang jadi modal.

Banyak yang jadi masalah dan gabisa nikah karena kesumbat di masalah itu dan itu lagi. Sifat Ar-Rozzaq Allah belum selesai dibahas nih keknya.

Justru gimana kalau biar enaknya.. meski terlihat seenaknya sendiri, orangtua juga pahamilah jiwa muda yang suka ngomongin cinta dan rawan zina yang bisa dilakukan di setiap anggota tubuh mana pun, meski cuma dari hati dan kepala semata.  Mbok yo fasilitasi wae nikahin anaknya meski masih muda. Masalah uang memang momok. Bantu lah.. ga wajib yakin.

Tapi itung-itung bantuin nutup pintu2 kesempatan berzina anak-anak kandung mereka sendiri.

Yang tanggung jawabnya ada pada mereka juga. Di dunia dan akhirat.

***
Susah keknya jika solusi permasalahan ini malah di fokuskan ke himbauan para ustadz untuk berhenti provokasi nikah muda yang asalnya niatnya baik. Mending solusinya ke para ustadz ini ganti mad’u topik tersebut ke para orangtuanya anak muda. Lalu bisa juga solusinya ke arah kurang-kurangin deh yang namanya macok-macokin di depan umum dan membocorkan khitbah atau bribikan orang. Karena kalau ga jadi, yang ga enak siapa?
Mbok dipikirkan tho perasaan orang yang bisa jadi ga jadi berjodoh dengan orang yang selama ini dipacok-pacokkin, lalu pikirkan juga jika ternyata bakal calon suami/istrinya bakal jadi suami/istri aktualnya sahabat karibnya?

Apa ga pernah kejadian, sampe pingin banget kalian cerita drama semacam ini kejadian beneran?

***

Insyaallah kalau udah ngaji emang kobar bara bapernya bisa diredam atas nama sunnah dan kebaikan silahturahim. Tapi apakah segitu harusnya kejadian? padahal bisa dicegah? mana pula hati orang yang ketahuan isinya gimana? Siapa tau ada rasa cemburu dan hasad karena sahabatnya menikahi gadis yang menolaknya atau temannya dikhitbah ikhwan yang dikaguminya?

Pentingnya menjaga, siapa oran yang kamu sukai. Jangan sebar-sebarin ke oranng lain. Pentingnya menjaga khitbahan kita, incaran kita, incaran teman kita dijaga jangan sampai meluas beritanya. Kalau gagal siapa yang kasian? siapa yang mau disalahkan? apa hati yang mencinta dan ga bisa diatur bolak-baliknya, atau lisan yang lebih mudah dikendalikan relatif terhadap hati manusia? Pentingnya jaga lisan jangan mudah memacok-macokkin orang, mbully dan ngode membocorkan ke pihak terkait tentang perasaan teman kita yang mengagguminya. Apakah segitu ga ada bahasan lainnya kah?

Kita sama-sama sepakat nikah muda itu nyunnah. Tapi apakah ‘cie cie’ lalu ‘macok macokkin’ yang belum bisa cocok, atau belum terkondisikan untuk cocok, itu jadi sunnah juga? Coba berpikir jernih, jika yang terjadi malah zina hati dan pikiran gimana? Mau dibawa kemana? Nikah belum bisa misalnya.. karena alasan orang tua atau ekonomi. (Ini juga evaluasi buat para ortu sih).

Ayolah temen-temen, berhenti macok2in hal yang belum waktunya terpaut,
Ayolah bapak-ibu, investasikan anak kalian di jalan yang halal, investasikan harta dan izin kalian untuk menutup pintu-pintu kemaksiatan dan zina yang kesempatannya menglobal dan mujmal (apaan).
Ayolah para pujangga cinta, puasa kalau belum waktunya, atau buktikan kalau kamu memang sudah pantas dikhitbah atau mengkhitbah. Dengan mental yang memang sudah dewasa, sikap yang dewasalah, usaha yang mapan, atau minimal mental itu tadi… buktikan~ Attitude underlying readiness for marriage.

***
Yassarallahu lanaa.

 

Advertisements