To Allah

Make me istiqomah in Your best way of truth..

Advertisements

Jawaban..

Kadang. Jawaban pertanyaan. 

Kenapa aku selalu ga bisa bahasa arab?”

Adalah. Karena Allah tahu, kalau kamu diberikan kemampuan itu. Kamu belum mampu menghindar dari resiko Ujub dan Riya’ karena dianugerahi kemampuan itu.

Padahal. Allah saja lah sesungguhnya, Zat yang pantas dipuji.

Friends

Sebagai sanguin di depan banyak orang, tapi melankolis dan introvert di belakang. Saya kesulitan membangun relasi yg dekat dengan orang lain, sejak saya kecil.

Tapi dipertemukan dengan teman-teman yang mau menerima saya, dengan banyak kekurangan. Saya harusnya juga berani menerima mereka dengan banyak kekurangan.

Selama ini mungkin ada salahnya di saya, dimana tuntutan ego ingin teman yg serba Malaikat sifatnya jadi dominan dalam diri saya.

Karena kebanyakan saya temui banyak teman seperti itu dulu. Sekarang mereka sudah jauh. Dan bagi org yg bukan malaikat seperti saya.. saya juga harus punya teman yg sama seperti saya, namun punya keinginan lebih baik sama-sama.

Tertawa dengan topik dan selera humor yang sama..

Berpegang dengan visi dan misi serta prinsip yang sama..

Sama-sama menjaga diri dan saling menjaga diri dalam kebaikanan saling menyelematkan jika ada yg keluar dari kebaikan yg kita sepakati bersama..

I wanna make friend to that kind of person.

Sekeping Syubhat, Semoga Allah Luruskan.

Belakangan ini, kita dapati sebuah fitnah syubhat yang muncul antara kedua Ustadz yang kita sudah bersama kenali. Ada yang terkena syubhat tentang konten perdebatan mereka, ada yang terkena syubhat justru dari akhlak dan sikap mereka terhadap perselisihan tersebut.
Saya sebagai umat islam biasa yang ilmunya rata-rata dengan segala kekurangan ilmunya. Bukan Ustadz. Agaknya tidak punya andil besar terhadap syubhat ini. Syubhat ini justru lebih membawa petaka bagi saya, daripada keinginan saya untuk memberi komentar dan pendapat saya yang riskan salah dan alphanya.
Saya hanya bisa menghimbau pada kaum muslimin dan muslimat. Sebatas sebagaimana yang dihimbau para Ustadz dan ahli ilmu lainnya. Bahwa persoalan semacam ini (fitnah ini) janganlah sampai dijadikan fokus. Ditanggapi terlalu dalam, utamanya oleh kita sebagai penuntut ilmu dasar. (Bukan Ustadz). Apalagi jika hal semacam ini terjadi lagi, kedepannya semoga kita bisa lebih jernih dan hati-hati menjerumuskan diri dalam membahas hal ini.
Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasululah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi berbagai macam fitnah, yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari-lari kecil, dan barangsiapa yang mengikuti fitnah tersebut, maka dirinya akan teraniaya karenanya, barangsiapa yang mendapatkan naungan tempat berlindung, maka berlindunglah padanya.” (Muttafaq ‘alaihi).
Agaknya lebih baik bagi kita untuk menjauhi sumber fitnah itu. Jika bisa maka carilah kebenaran dari sumbernya langsung, dari ustadz yang benar-benar kita percayai. Atau jika kita sudah percaya artikel dari suatu web tertentu, maka carilah dari sana sumber pegangan yang baik, yang merujuk pada kitabullah Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya, al-Hadist, dan sumber hukum islam yang diakui.
Betapa saya menghargai usaha Ustadz-ustadz kami, yang mengajarkan umatnya untuk berpikir jernih (sejernih ala-ala iklan sprite). mengajarkan umatnya berpikir kalem dan tidak buru-buru kepanasan dengan fitnah semacam ini.
Hendaknya kita berbangga, jika kita baru bisa diam dan menjawab “Waullahu’alam” terhadap berita fitnah yang belum bisa kita tabayyun kan dan kuasai ilmunya. Daripada berusaha membela atau terjun ke dalam fitnah namun lupa berbekal ilmu dan berasumsi buta bahwa ilmunya nanti saja setelah terjun membela. Wa iyyadzubillah.
Islam tidak mengajarkan amal tanpa ilmu ya ikhwah.
Islam menjunjung tinggi ilmu. Memberikan hak bicara dan dakwah dengan tangan dan lisan kepada yang berhak melakukannya, yaitu yang memiliki ilmu yang mumpuni, dalam bidang ushul dan tahqiq yang baik, yaitu para ustadz. Lalu yang benar-benar berkepentingan memutuskan, yaitu ulul amri.
Jika kita baru pada fase membela agama ini dengan mengingkari fitnah di dalam hati. Maka jika memang itu realita kapasitas kita, maka puaslah dan banggalah dengan itu.
Jangan memperturutkan hawa nafsu dan mendahulukan emosi. Jangan beri contoh perbuatan jelek bagi orang awam. Sungguh perbuatan, perkataan dan kaitannya dg dzahir kita di mata mereka, punya banyak pengaruh terhadap stereotip dan kemudahan dakwah islam yang baik dan benar.
Hendaknya dan semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa dijadikan Allah orang-orang yang memudahkan dakwah islam. Bukan memperkeruh dan mempersulitnya.
Adapun sebenarnya, yang saya ingin bawakan disini adalah syubhat yang sebenarnya ada dalam diri saya mengenai konten perdebatan kedua ustadz tersebut.
Ini artikel bermanfaat, untuk membantu kita menanggapi / merespon sebuah syubhat, atau fitnah selanjutnya, karena kita sedang hidup di zaman fitnah,
12019977_954793024559303_2357168534290871545_n
Point selanjutnya.
Faidah bagi saya sendiri, adalah, saya masih bisa kena syubhat tentang takdir. Berarti saya kurang beriman di bagian ini. Kurang berilmu. Saya memohon kepada Allah agar kita bersama dimudahkan mendapat ilmunya. Aamiin.
jujur saya masih bingung terhadap artikel ustadz Firanda juga diatas. begitu bingung saya tahu belum waktunya saya bergerilya menerjunkan diri dalam syubhat ini. Lalu saya kembali ke kesibukkan nyekripsi dan MI. Saya malu sebenarnya sudah berulang kali kajian Aqidah dan tauhid tapi belum jelas soal takdir.
Ini pelajaran, bahwa kita senantiasa butuh kepada kajian tentang akidah dan tauhid. Meski sudah khatam berkali-kali.
Kalau ada diantara kalian yang juga masih bingung, mari mendalami bersama soal takdir di artikel ini, Saya sarankan baca artikel Ustadz Ammi dulu,
Sebenarnya artikel di atas sudah cukup untuk jadi pondasi dan ushul. Tapi ada rincian tentang jenis takdir yang lebih jelas dituliskan oleh ustadz Raehan di bawah ini,
***
Intinya, kalau kita masih bingung tentang masalah takdir, itu indikasi keras kita masih harus belajar. Jangan malu mengulang kajian aqidah dari nol lagi, bersama jamaah lain meski sudah beda wajah atau bersama dengan jamaah yang baru hijrah. Jangan malu, Jangan pernah.
Saya sedang menguatkan diri juga, kenapa saya harus ngulang MI dan ngulang matkul di Farmasi. Malu ada.. tapi saya sedang menguatkan diri bahwa yang terpenting adalah pahamnya, bukan semata-mata pernah atau sah (tembus nilai tanpa faidah).
Kalau pekara dunia, ambil secukupnya saja ya. Kalau akidah, rasa-rasanya tidak akan ada habisnya untuk dimuraja’ah (diulang).
Jika belum paham, ada baiknya soal takdir yang menjadi salah satu rukun iman seorang muslim ini, menjadi prioritas utama untuk dipelajari.
Sisihkan waktu, semenit 2 menit. Untuk merefresh iman dan akidah kita lagi. Pentingnya baca, pentingnya kajian. Pentingnya berilmu, untuk diamalkan.
Cintailah ilmu, selalu~
Yassarallahu lanaa.
Wa barakallahu fiina.. Allahu yahdinaa.
Allahumma Laa taj’al mushibatan fii diininaa.

Saya Tidak Mau Memikirkannya, Saya Ingin Menuliskannya

Bismillah. Semoga ini media move on yang tepat. Stepping stone for moving forward.

Saya ini Sanguin. Saya baru ingin memahami diri saya sendiri. Jadi Saya akan banyak cerita tentang diri Saya. Saya suka mengekspresikan apa yang saya pikirkan dan rasakan, di Myers-Briggs Theory seputar personality, saya punya nature atau kecenderungan dalam emosi yang Saya punya adalah dengan menyampaikannya. Bukan menyembunyikannya sebagaimana para Thinker do. I am a feeler. Something like that.

Oleh karenanya Saya tulis ini.

***
Ini adalah soal pernikahan. Sesuatu yang tabu kubicarakan secara gamblang di depan orang-orang. Lebih karena malu dianggap memikirkannya terus. (Tipically pasive behaviour or turbulence behaviour).

Saya bingung menyikapi sebuah hubungan dengan lawan jenis. Karena bagi saya sejak lahir bisa jadi, itu adalah hubungan yang sangat terbatas. Hanya seputar ayah dg anak perempuan, anak laki-laki dg ibu, paman dengan keponakan perempuannya, intinya ya dengan mahromnya.

Lalu hubungan dengan laki-laki asing bukan mahrom? Itu masih misteri. Saya tidak ingin dianggap eksklusif, dijauhi dan dianggap alien, tapi saya juga tidak ingin tidak dihormati sebagai perempuan. Pada dasarnya saya percaya semua perempuan sama seperti saya dalam hal ingin dihargai dan dimengerti.

Karena saya hidup di bawah keyakinan patri linea. Suku Jawa dan Agama yang sempurna ini juga bilang begitu. Hanya saja.. saya percaya ini bukan menyoal kebebasan dan keterinjakkan hak dan anti emansipasi.

Saya memaknai kebebasan dengan hal yang lain. Yang lebih indah menurut Saya dan yang memahaminya.

***
Sudah soal wanitanya..

***

Ya memang saya ini perfeksionis di suatu sisi. Dan sifat turbulence menjadi sifat yang mengindikasikannya. Yang saya targetkan sebagai respon dari laki-laki ideal adalah sifat mereka yang menghargai wanita, melindungi mereka dan tidak merendahkan mereka, meski Saya memang mengakui Kaum Hawa punya beberapa keterbatasan dibanding Kaum Adam. Sifat merendahkan itu bukan berarti dibolehkan karena Kami lebih lemah atau tidak kuat logika dan fisiknya.

***
Sifat yang saya ambil sebagai contoh di dunia nyata ini, ideal type dan actually reality goalnya. Adalah beberapa Ustadz yang saya kagumi akhlak dan santunnya terhadap wanita. Ustadz Aris Munandar, Ustadz Afifi Abdul Wadud, Ustadz Syafiq Reza, Ustadz Abu Salman sebut saja.

Ketika saya tanya “Bagaimana menyikapi perubahan mood yang memburuk saat PMS?” Saya tanya dengan perspektif perempuan, tapi Ustadz Aris jawab dengan perspektif Suaminya. Yaitu dengan banyak bersabar dan memaklumi. Beliau mengesankan sebuah pemakluman dan kemudahan bagi kami dalam usaha kami memperbaiki diri dengan keras saat sedang PMS, sebagai sebuah fitrah yang gak melulu harus dari sisi kaum hawa yang berbenah dalam menyikapinya.

Ketika saya lihat akhlak yang tegas dari Ustadz Afifi, saya masih bisa melihat kesetiaan dan kesederhanaan dalam mencintai serta kasih sayang yang mengalir lembut dari sikap beliau terhadap satu-satunya pendamping hidup beliau.

Ketika saya lihat kajian favorit ibu-ibu dari Ustadz Syafiq, tentang bagaimana bengkoknya wanita tidak bisa serta merta diluruskan dengan paksa.. kesabaran menjadi salah satu bahan utama dalam resep meluruskannya. Rasanya saya bisa memaknai apa itu artinya penghargaan dan pemuliaan kaum Adam pada kaum Hawa di dunia nyata.

Meski FYI saya bukan termasuk jajaran orang yang memfavoritkan beliau. Saya lebih suka gaya dan nuansa pembawaan kajian dari Ustadz Aris atau Ustadz Ammi Nur Baits. Saya lebih suka Ustadz yang not only virtually exist. Berhubungan erat dengan domisili, emang.

***
Oleh karenanya saya tidak setuju. Meski bekal saya tidak menyetujuinya adalah asumsi-asumsi yang berangkat dari informasi yang minim dan tidak bisa dipastikan dengan derajat Yaqin.

Dengan sikap tidak sopan yang kurang menghargai wanita. Sebagai mahluk perasa. Bagaimanapun karakternya.

(Udah ah, gausah dirinci bentuknya kek mana)

***
Yaah.. kengkawan saya adalah mahluk perasa yang dominan. Penuh ekspresi dan kadang lupa mempertimbangkan udzur dan kondisi kaum adam. Ya mau gimana lagi? kita dibangun di atas hubungan yang ketat jika belum halal atau tidak ada hubungan darah. Benar-benar lahan subur untuk saling berprasangka. Dengan segala keterbatasan data.

***
Sudah.. jangan dibahas orang lain deh.
Saya mau membahas masalah saya.

***
Polemik di usia 20an awal. Udah usia yang bisa nikah, tapi urf nya belum mendukung. Indonesia. Negara mayoritas islam. Tapi akidahnya warna-warni.  Kadang saya kzl sama Ustadz-ustadz yang pro nikah muda, dan manas-manasin ikhwah untuk segera menikah. Tapi ga didukung kajian-kajian yang mengarahkan para orang tua agar memudahkannya. Karena bagi wanita terutama, semata-mata ngebet nikah tapi tanpa ijin orang tua. Bisa jadi sulit juga termasuknya.

***
Harus didukung mental yang asertif dan berani susah ambil resiko. Tipically kayaknya emang aku kena syubhat pemikiran orangtua.
Bukan berarti aku anti nikah muda. Aku juga capek kali, berkutat dengan fitnah itu-itu aja.. masa mudaku terlalu sia-sia jika harus lama-lama berlarut-larut memikirkan fitnah lawan jenis saja. Padahal kewajiban itu menggunung. Semacam menuntut ilmu syar’i dan belajar bahasa arab atau menghapal al-Qur’an.

Dan kalau dipikir2, solusi move on dari fitnah itu ya seperti yang diajarkan Rasulullah untuk segera menikah jika sudah siap bathin dan lahirnya.

Artinya jika di masa muda sudah siap, ya maju. Sayangnya siap lahir itu lho yang jadi masalah. Emang sih, nikah kalau udah mapan itu mainstream banget. Tapi mau gimana? Rasul juga pernah mengajarkan bahwa mapan adalah suatu hal yang jadi modal.

Banyak yang jadi masalah dan gabisa nikah karena kesumbat di masalah itu dan itu lagi. Sifat Ar-Rozzaq Allah belum selesai dibahas nih keknya.

Justru gimana kalau biar enaknya.. meski terlihat seenaknya sendiri, orangtua juga pahamilah jiwa muda yang suka ngomongin cinta dan rawan zina yang bisa dilakukan di setiap anggota tubuh mana pun, meski cuma dari hati dan kepala semata.  Mbok yo fasilitasi wae nikahin anaknya meski masih muda. Masalah uang memang momok. Bantu lah.. ga wajib yakin.

Tapi itung-itung bantuin nutup pintu2 kesempatan berzina anak-anak kandung mereka sendiri.

Yang tanggung jawabnya ada pada mereka juga. Di dunia dan akhirat.

***
Susah keknya jika solusi permasalahan ini malah di fokuskan ke himbauan para ustadz untuk berhenti provokasi nikah muda yang asalnya niatnya baik. Mending solusinya ke para ustadz ini ganti mad’u topik tersebut ke para orangtuanya anak muda. Lalu bisa juga solusinya ke arah kurang-kurangin deh yang namanya macok-macokin di depan umum dan membocorkan khitbah atau bribikan orang. Karena kalau ga jadi, yang ga enak siapa?
Mbok dipikirkan tho perasaan orang yang bisa jadi ga jadi berjodoh dengan orang yang selama ini dipacok-pacokkin, lalu pikirkan juga jika ternyata bakal calon suami/istrinya bakal jadi suami/istri aktualnya sahabat karibnya?

Apa ga pernah kejadian, sampe pingin banget kalian cerita drama semacam ini kejadian beneran?

***

Insyaallah kalau udah ngaji emang kobar bara bapernya bisa diredam atas nama sunnah dan kebaikan silahturahim. Tapi apakah segitu harusnya kejadian? padahal bisa dicegah? mana pula hati orang yang ketahuan isinya gimana? Siapa tau ada rasa cemburu dan hasad karena sahabatnya menikahi gadis yang menolaknya atau temannya dikhitbah ikhwan yang dikaguminya?

Pentingnya menjaga, siapa oran yang kamu sukai. Jangan sebar-sebarin ke oranng lain. Pentingnya menjaga khitbahan kita, incaran kita, incaran teman kita dijaga jangan sampai meluas beritanya. Kalau gagal siapa yang kasian? siapa yang mau disalahkan? apa hati yang mencinta dan ga bisa diatur bolak-baliknya, atau lisan yang lebih mudah dikendalikan relatif terhadap hati manusia? Pentingnya jaga lisan jangan mudah memacok-macokkin orang, mbully dan ngode membocorkan ke pihak terkait tentang perasaan teman kita yang mengagguminya. Apakah segitu ga ada bahasan lainnya kah?

Kita sama-sama sepakat nikah muda itu nyunnah. Tapi apakah ‘cie cie’ lalu ‘macok macokkin’ yang belum bisa cocok, atau belum terkondisikan untuk cocok, itu jadi sunnah juga? Coba berpikir jernih, jika yang terjadi malah zina hati dan pikiran gimana? Mau dibawa kemana? Nikah belum bisa misalnya.. karena alasan orang tua atau ekonomi. (Ini juga evaluasi buat para ortu sih).

Ayolah temen-temen, berhenti macok2in hal yang belum waktunya terpaut,
Ayolah bapak-ibu, investasikan anak kalian di jalan yang halal, investasikan harta dan izin kalian untuk menutup pintu-pintu kemaksiatan dan zina yang kesempatannya menglobal dan mujmal (apaan).
Ayolah para pujangga cinta, puasa kalau belum waktunya, atau buktikan kalau kamu memang sudah pantas dikhitbah atau mengkhitbah. Dengan mental yang memang sudah dewasa, sikap yang dewasalah, usaha yang mapan, atau minimal mental itu tadi… buktikan~ Attitude underlying readiness for marriage.

***
Yassarallahu lanaa.