Sekeping Syubhat, Semoga Allah Luruskan.

Belakangan ini, kita dapati sebuah fitnah syubhat yang muncul antara kedua Ustadz yang kita sudah bersama kenali. Ada yang terkena syubhat tentang konten perdebatan mereka, ada yang terkena syubhat justru dari akhlak dan sikap mereka terhadap perselisihan tersebut.
Saya sebagai umat islam biasa yang ilmunya rata-rata dengan segala kekurangan ilmunya. Bukan Ustadz. Agaknya tidak punya andil besar terhadap syubhat ini. Syubhat ini justru lebih membawa petaka bagi saya, daripada keinginan saya untuk memberi komentar dan pendapat saya yang riskan salah dan alphanya.
Saya hanya bisa menghimbau pada kaum muslimin dan muslimat. Sebatas sebagaimana yang dihimbau para Ustadz dan ahli ilmu lainnya. Bahwa persoalan semacam ini (fitnah ini) janganlah sampai dijadikan fokus. Ditanggapi terlalu dalam, utamanya oleh kita sebagai penuntut ilmu dasar. (Bukan Ustadz). Apalagi jika hal semacam ini terjadi lagi, kedepannya semoga kita bisa lebih jernih dan hati-hati menjerumuskan diri dalam membahas hal ini.
Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu berkata, Rasululah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan terjadi berbagai macam fitnah, yang duduk lebih baik daripada yang berdiri, yang berdiri lebih baik daripada yang berjalan, yang berjalan lebih baik daripada yang berlari-lari kecil, dan barangsiapa yang mengikuti fitnah tersebut, maka dirinya akan teraniaya karenanya, barangsiapa yang mendapatkan naungan tempat berlindung, maka berlindunglah padanya.” (Muttafaq ‘alaihi).
Agaknya lebih baik bagi kita untuk menjauhi sumber fitnah itu. Jika bisa maka carilah kebenaran dari sumbernya langsung, dari ustadz yang benar-benar kita percayai. Atau jika kita sudah percaya artikel dari suatu web tertentu, maka carilah dari sana sumber pegangan yang baik, yang merujuk pada kitabullah Al-Qur’an dan sunnah Rasul-Nya, al-Hadist, dan sumber hukum islam yang diakui.
Betapa saya menghargai usaha Ustadz-ustadz kami, yang mengajarkan umatnya untuk berpikir jernih (sejernih ala-ala iklan sprite). mengajarkan umatnya berpikir kalem dan tidak buru-buru kepanasan dengan fitnah semacam ini.
Hendaknya kita berbangga, jika kita baru bisa diam dan menjawab “Waullahu’alam” terhadap berita fitnah yang belum bisa kita tabayyun kan dan kuasai ilmunya. Daripada berusaha membela atau terjun ke dalam fitnah namun lupa berbekal ilmu dan berasumsi buta bahwa ilmunya nanti saja setelah terjun membela. Wa iyyadzubillah.
Islam tidak mengajarkan amal tanpa ilmu ya ikhwah.
Islam menjunjung tinggi ilmu. Memberikan hak bicara dan dakwah dengan tangan dan lisan kepada yang berhak melakukannya, yaitu yang memiliki ilmu yang mumpuni, dalam bidang ushul dan tahqiq yang baik, yaitu para ustadz. Lalu yang benar-benar berkepentingan memutuskan, yaitu ulul amri.
Jika kita baru pada fase membela agama ini dengan mengingkari fitnah di dalam hati. Maka jika memang itu realita kapasitas kita, maka puaslah dan banggalah dengan itu.
Jangan memperturutkan hawa nafsu dan mendahulukan emosi. Jangan beri contoh perbuatan jelek bagi orang awam. Sungguh perbuatan, perkataan dan kaitannya dg dzahir kita di mata mereka, punya banyak pengaruh terhadap stereotip dan kemudahan dakwah islam yang baik dan benar.
Hendaknya dan semoga kita termasuk orang-orang yang senantiasa dijadikan Allah orang-orang yang memudahkan dakwah islam. Bukan memperkeruh dan mempersulitnya.
Adapun sebenarnya, yang saya ingin bawakan disini adalah syubhat yang sebenarnya ada dalam diri saya mengenai konten perdebatan kedua ustadz tersebut.
Ini artikel bermanfaat, untuk membantu kita menanggapi / merespon sebuah syubhat, atau fitnah selanjutnya, karena kita sedang hidup di zaman fitnah,
12019977_954793024559303_2357168534290871545_n
Point selanjutnya.
Faidah bagi saya sendiri, adalah, saya masih bisa kena syubhat tentang takdir. Berarti saya kurang beriman di bagian ini. Kurang berilmu. Saya memohon kepada Allah agar kita bersama dimudahkan mendapat ilmunya. Aamiin.
jujur saya masih bingung terhadap artikel ustadz Firanda juga diatas. begitu bingung saya tahu belum waktunya saya bergerilya menerjunkan diri dalam syubhat ini. Lalu saya kembali ke kesibukkan nyekripsi dan MI. Saya malu sebenarnya sudah berulang kali kajian Aqidah dan tauhid tapi belum jelas soal takdir.
Ini pelajaran, bahwa kita senantiasa butuh kepada kajian tentang akidah dan tauhid. Meski sudah khatam berkali-kali.
Kalau ada diantara kalian yang juga masih bingung, mari mendalami bersama soal takdir di artikel ini, Saya sarankan baca artikel Ustadz Ammi dulu,
Sebenarnya artikel di atas sudah cukup untuk jadi pondasi dan ushul. Tapi ada rincian tentang jenis takdir yang lebih jelas dituliskan oleh ustadz Raehan di bawah ini,
***
Intinya, kalau kita masih bingung tentang masalah takdir, itu indikasi keras kita masih harus belajar. Jangan malu mengulang kajian aqidah dari nol lagi, bersama jamaah lain meski sudah beda wajah atau bersama dengan jamaah yang baru hijrah. Jangan malu, Jangan pernah.
Saya sedang menguatkan diri juga, kenapa saya harus ngulang MI dan ngulang matkul di Farmasi. Malu ada.. tapi saya sedang menguatkan diri bahwa yang terpenting adalah pahamnya, bukan semata-mata pernah atau sah (tembus nilai tanpa faidah).
Kalau pekara dunia, ambil secukupnya saja ya. Kalau akidah, rasa-rasanya tidak akan ada habisnya untuk dimuraja’ah (diulang).
Jika belum paham, ada baiknya soal takdir yang menjadi salah satu rukun iman seorang muslim ini, menjadi prioritas utama untuk dipelajari.
Sisihkan waktu, semenit 2 menit. Untuk merefresh iman dan akidah kita lagi. Pentingnya baca, pentingnya kajian. Pentingnya berilmu, untuk diamalkan.
Cintailah ilmu, selalu~
Yassarallahu lanaa.
Wa barakallahu fiina.. Allahu yahdinaa.
Allahumma Laa taj’al mushibatan fii diininaa.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s